Apa Itu Disrupsi Digital? 6 Contoh Digital Disruption di Indonesia

Di tengah kemajuan teknologi yang pesat, kita sering mendengar istilah “disrupsi digital”. Lantas, sebenarnya apa itu disrupsi digital? Dan Bagaimana contoh digital disruption di Indonesia?

Istilah disrupsi digital ini banyak digaungkan oleh para pakar manajemen, bisnis dan pemasaran di Indonesia. Seperti Prof. Renald Khasali, Hermawan Kartajaya, Yuswohadi dan lain sebagainya.

Fenomena Digital Disruption ini disebut-sebut telah berdampak pada banyak sektor usaha di tanah air. Berbagai toko-toko konvensional terpaksa tutup akibat hal ini.

Lantas, benarkan hal itu semua?

Apakah Disrupsi Digital akan menjadi ancaman bagi banyak pelaku usaha?

Di artikel ini kita akan mengupas secara tuntas tentang apa itu disrupsi digital, contoh-contohnya serta cara dan strategi untuk menghadapinya.

Yuk simak!

Apa Itu Disrupsi Digital?

Mengutip laman Universitas Indonesia, disrupsi digital adalah terjadinya inovasi dan perubahan besar-besaran karena hadirnya teknologi digital. Perubahan ini mempengaruhi dunia bisnis dan individu.

Teknologi digital mengubah sistem dan model bisnis, akibatnya banyak bisnis yang mati karena tidak mampu menyesuaikan diri dengan cara baru.

Selain itu, kecanggihan teknologi digital juga sudah mampu menggantikan pekerjaan manusia, sehingga banyak orang yang tiba-tiba kehilangan pekerjaannya.

Dengan kata lain disrupsi digital adalah fenomena ketika teknologi digital berdampak pada keberlangsungan sebuah bisnis ataupun pekerjaan seseorang.

Baca juga: 13 Aplikasi Membuat Jadwal Kegiatan Sehari-hari di Android

Faktor Disrupsi Digital

faktor faktor disrupsi digital
doc. erp-information.com

Salah satu karakteristik utama dari disrupsi digital adalah perubahan yang cepat, massive dan tak terduga. Selain karena kemajuan teknologi, disrupsi digital juga terjadi karena beberapa faktor lain.

Mengutip dari laman ERP Information, ada 5 faktor pemicu terjadinya disrupsi digital. Yakni teknologi, society, regulasi, ekonomi dan kompetisi.

Berikut penjelasannya:

Kecanggihan Teknologi

Tak bisa dipungkiri, pesarnya perkembangan teknologilah menjadi faktor utama terjadinya disrupsi digital.

Teknologi telah mengubah banyak hal dalam hidup kita. Mulai dari cara kita berkomunikasi, mencari berita dan informasi, berbelanja, bekerja, belajar dan lain sebagainya.

Munculnya berbagai teknologi seperti Artificial Intelligene (AI), Machine Learning, Internet of Things (IoT), Cloud Computing telah membuka pintu-pintu inovasi di berbagai bidang. Siapapun kini bisa membuat karya, mengolah data, membuat model bisnis baru dengan mudah, efektif dan efisien.

Contoh, Grab menggunakan teknologi aplikasi digital untuk menyediakan bisnis transportasi online. Dan mereka berhasil mendisrupsi para pelaku bisnis taksi, pengemudi ojek konvensional dan lain sebagainya.

Perubahan Perilaku Konsumen

Faktor kedua yang mempengaruhi terjadinya disrupsi digital adalah adanya perubahan prilaku masyarakat. Yakni ketika masyarakat atau konsumen lebih mengandalkan teknologi digital dalam kehidupan sehari-hari seperti berkomunikasi, belanja, bekerja, belajar dan lain-lain.

Belum lagi, perubahaan prilaku secara massive seperti adanya pandemi yang membuat orang lebih banyak beraktivitas secara online, tentu akan sangat berdampak pada dunia bisnis.

Contoh lain, adanya perubahan nilai-nilai sosial, seperti semakin meningkatknya kesadaran orang akan lingkungan tentu akan mendorong orang untuk memilih produk dan layanan yang berkelanjutan.

Baca juga: 6 Tips Menjaga Kesehatan Mental di Era Digital, Simple dan Mudah!

Kompetisi Bisnis

Faktor disrupsi digital selanjutnya adalah kompetisi di dunia bisnis. Munculnya berbagai model bisnis baru dari perusahaan-perusahaan besar ataupun startup yang menggunakan kecanggihan teknologi tentu akan mengganggu dan mendisrupsi bisnis-bisnis yang sudah ada.

Ekonomi

Perubahan pada sistem ekonomi khususnya secara makro juga tentu meningkatkan peluang terciptanya disrupsi digital.

Sebagai contoh krisis finansial yang terjadi pada tahun 2018 tentu meningkatkan kebutuhan akan produk dan barang-barang yang lebih murah.

Hal ini selain menciptakan peluang bisnis baru, di sisi lain juga menciptakan disrupsi bagi bisnis-bisnis yang sudah ada.

Regulasi

Faktor terakhir terjadinya disrupsi adalah faktor regulasi. Pengambilan suatu kebijakan dari pemerintah tentu sedikit banyak akan berpengaruh pada dunia bisnis.

Sebagai contoh adanya regulasi tentang perlindungan data konsumen di Eropa, telah meningkatkan permintaan akan layanan data privacy.

Contoh-Contoh Digital Disruption di Indonesia

Kita bisa melihat banyak contoh digital disruption di Indonesia dari berbagai sektor bisnis. Berikut beberapa di antaranya:

1. Sektor Kesehatan

Munculnya berbagai aplikasi kesehatan seperti Halodoc, Alodokter, HelloSehat dan lain sebagainya tentu menciptakan dampak pada bisnis-bisnis kesehatan konvensional.

Dengan aplikasi digital, orang dengan mudah mendapatkan layanan kesehatan, berkonsultasi dengan dokter, membuat janji temu, mendapatkan resep hingga memesan obat secara online.

Dampaknya, banyak bisnis-bisnis di bidang kesehatan seperti klinik dan apotik yang terdampak.

2. Sektor Keuangan

Di sektor keuangan menjadi salah satu industri yang paling terpengar dampak disrupsi digital. Kita melihat sendiri banyak bank-bank konvensional yang saat ini sedang terancam dan terkena disrupsi.

Hal ini karena munculnya berbagai teknologi financial (fintech) seperti bank-bank digital yang saat ini sudah mulai marak. Kita mengetahui contohnya seperti bank Jago, Allo Bank dan lain sebagainya.

Kemudahan yang ditawarkan oleh layanan bank digital tersebut membuat konsumen lebih tertarik. Kita tidak perlu repot-repot datang ke bank dan antri hanya transaksi keuangan.

Bagi bank-bank besar seperti BCA, Mandiri, BNI, dan BRI mereka bisa menyesuaikan diri dengan turut go digital juga. Namun bagi bank-bank kecil atau bisnis jasa keuangan yang kecil-kecil tentu banyak yang terdisrupsi dengan hal ini.

3. Sektor Transportasi

Di sektor transportasi, disrupsi digital juga dengan jelas terlihat. Siapa yang gak kenal Gojek dan Grab, duo startup di bidang transportasi online yang telah menguasai hampir seluruh wilayah Indonesia.

Walhasil, tukang-tukang ojek dan perusahaa taksi konvensional menjadi kehilangan pekerjaannya.

Dengan kecanggihan teknologi, orang dengan mudah memesan ojek baik untuk bepergian maupun untuk memesan makanan. Perusahaan digital ini pun menawarkan solusi yang lebih praktis, murah, dan aman.

4. Sektor Perdagangan

Mal-mal menjadi sepi, supermarket dan retail banyak yang tutup. Itulah contoh disrupsi digital di bidang retail dan perdagangan.

Semua ini karena hadirnya berbagai aplikasi e-commerce. Dengan aplikasi oren, ijo, atau pink orang bisa berbelanja tanpa harus datang langsung ke toko.

Harga yang ditawarkan pun lebih murah, pilihan produk lebih beragam. Customer pasti akan lebih senang.

Giant, Ramayana, Matahari, Transmart, dan lain sebagainya adalah contoh perusahaan retail yang tutup toko karena hadirnya Lazada, Shopee, Bukalapak, Tokopedia dan lain sebagainya.

5. Sektor Pendidikan

Tak hanya di dunia bisnis, disrupsi digital juga terjadi di dunia pendidikan.

Beberapa puluh tahun lalu, anak-anak SMA yang ingin meneruskan pendidikan ke bangku kuliah akan mengikuti bimbingan belajar (bimbel) dari lembaga-lembaga pendidikan dan kursus yang ada seperti Primagama, JILC, dan kawan-kawannya.

Kini, lembaga-lembaga tersebut sudah hilang. Digantikan posisinya oleh aplikasi e-learning seperti Ruangguru, Skill Academy, Brainly, Kelas Pintar, GreatEdu dan lain sebagainya.

Aplikasi digital learning tersebut menawarkan solusi bimbingan belajar yang lebih murah, efektif dan menarik.

6. Sektor Pariwisata

Hotel-hotel kini bukan hanya bersaing dengan sesama hotel. Tetapi saingan yang paling berat adalah aplikasi digital yang menawarkan layanan akomodasi dan penginapan yang lebih murah dan praktis.

Sebut saja ada Traveloka, AirBnB, Oyo dan lain sebagainya.

Travel agent dan agen perjalanan wisata apa kabar? Hmmm… banyak dari mereka yang tinggal kenangan. Itulah dampak dari Disrupsi Digital yang massive dan gila-gilaan.

Nah, itulah beberapa contoh digital disruption di Indonesia. Kalau kita kaji lebih dalam, masih banyak sekali contoh-contoh lain yang lebih mengerikan.

Baca juga: Inventing.id Ciptakan Mesin Cetak Dokumen yang Lebih Murah dan Praktis

Kesimpulan: Disrupsi Digital, Ancaman dan Tantangan!

Demikianlah penjelasan tentang apa itu disrupsi digital, apa faktor-faktor penyebabnya dan contoh-contoh realnya di Indonesia.

Intinya, disrupsi digital bisa menjadi pisau bermata dua. Bisa jadi ancaman dan bisa juga jadi tantangan.

Bisnis dan individu yang tidak mampu beradpatasi akan punah, mereka yang cermat akan jaya.

Semoga bermanfaat!

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top