Dibalik Viralnya Roleplay di TikTok: Kecanduan dan Risiko Bagi Remaja

TikTok telah menjadi salah satu platform media sosial yang semakin populer belakangan ini. Pengguna TikTok berasal dari berbagai kalangan dan rentang usia, termasuk remaja dan anak-anak.

Dalam beberapa waktu terakhir, tren “roleplay” telah muncul di TikTok. Tren ini menjadi viral setelah sebuah video memperlihatkan seorang ayah yang menemukan anaknya sedang melakukan roleplay yang tidak sesuai dengan usianya.

Dalam konteks TikTok, roleplay mengacu pada berperan sebagai karakter yang berbeda dengan diri asli seseorang. Konten roleplay ini melibatkan berbagai aspek seperti cara berbicara, filter yang digunakan, gaya berpakaian, dan sebagainya.

Baca juga: Game Arcade Seru Hadir di YouTube: Jelajahi Dunia Stack Bounce!

Seorang psikiater bernama Lahargo Kembaren SpKj mengungkapkan adanya potensi bahaya dari roleplay di TikTok. Menurutnya, ada kemungkinan seseorang dapat mengalami kecanduan atau ketergantungan. Hal ini dapat berdampak negatif terutama pada anak-anak yang sedang mencari jati diri mereka.

“Ketika seseorang melakukan roleplay, ada rasa nyaman yang muncul, seperti ‘Aku senang menjadi karakter ini’. Otak akan mengeluarkan hormon dopamin yang memberikan rasa nyaman bagi individu tersebut. Mereka merasakan ketenangan dan kenyamanan sesaat, namun ketika efeknya mulai mereda, mereka tidak memiliki cara lain untuk mendapatkan kenyamanan itu selain dengan terus melakukan hal yang sama. Ini dapat menyebabkan pola perilaku yang berulang-ulang,” terang Lahargo seperti yang dilaporkan oleh detik.com.

Baca juga: Cara Download Video TikTok dan Bagikan Melalui WhatsApp, Simple dan Mudah!

Lebih lanjut, sebuah penelitian yang dilakukan oleh Surgeon General’s Advisory di Amerika Serikat menemukan dampak negatif penggunaan media sosial pada anak-anak dan remaja. Studi ini melibatkan remaja berusia 12-15 tahun dan menghubungkannya dengan kesehatan mental mereka.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa remaja yang menghabiskan lebih dari 3 jam per hari di media sosial memiliki risiko dua kali lipat mengalami masalah kesehatan mental, termasuk gejala depresi dan gangguan kecemasan.

Baca juga: WhatsApp Uji Coba Fitur Multi-Account, Login Banyak Akun dalam Satu Aplikasi

Dalam laporan yang berjudul “Social Media and Youth Mental Health,” disebutkan bahwa pada tahun 2021, siswa kelas 8 dan 10 rata-rata menghabiskan 3,5 jam per hari di media sosial.

Studi yang melibatkan mahasiswa di seluruh perguruan tinggi di Amerika Serikat menemukan bahwa media sosial berkontribusi pada peningkatan tingkat depresi (sebanyak 9% dari batas) dan kecemasan (sebanyak 12% dari batas).

Peneliti juga mencatat bahwa media sosial diperkirakan telah menyebabkan lebih dari 300.000 kasus depresi baru.

Temuan ini menimbulkan kekhawatiran serius tentang risiko paparan media sosial bagi anak-anak dan remaja yang sedang dalam tahap perkembangan otak mereka.

Studi tersebut menyimpulkan bahwa pembatasan penggunaan media sosial pada anak-anak dan remaja perlu dilakukan untuk menjaga kesehatan mental mereka.

Sebagai contoh, sebuah uji coba terkontrol pada mahasiswa menemukan bahwa membatasi penggunaan media sosial selama 30 menit setiap hari selama tiga minggu dapat meningkatkan tingkat keparahan depresi.

Baca juga: Buruan Hapus! Ratusan Aplikasi Android Ini Disusupi Malware-Sedot Isi Rekening

Uji coba terkontrol lainnya pada populasi dewasa menemukan bahwa membatasi penggunaan media sosial selama empat minggu dapat meningkatkan kebahagiaan dan kepuasan hidup sebesar 25-40%.

Selain temuan-temuan terbaru tersebut, penelitian-penelitian lain juga menunjukkan korelasi antara penggunaan media sosial dan kesehatan mental yang buruk, terutama pada remaja perempuan dan mereka yang sudah mengalami masalah kesehatan mental.

Sebagai orang tua, kebanyakan dari mereka mengkhawatirkan penggunaan media sosial oleh anak-anak mereka. Mereka khawatir bahwa kecanduan media sosial dapat menyebabkan masalah seperti kecemasan atau depresi (53%), penghinaan (54%), pelecehan atau intimidasi online (54%), tekanan untuk berperilaku sesuai dengan tuntutan tertentu (59%), dan paparan konten yang tidak pantas (71%).

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top